Pasca Lebaran, DPMPD Kembali Gelar Pengajian Bulanan

icon - In Berita By Admin Website    icon 6894

Pasca Lebaran, DPMPD Kembali Gelar Pengajian Bulanan

SAMARINDA – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kaltim kembali menggelar pengajian rutin bulanan.

Kegiatan keagamaan dalam rangka meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan pengetahuan pegawai tersebut dilaksanakan pasca Lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah atau masih dalam Bulan Syawal.

Pengajian bulanan menghadirkan penceramah Ustad Sani Bin Husaini dengan dihadiri jajaran pegawai dan mahasiswa magang di lingkungan DPMPD Kaltim. Nampak hadir Sekretaris DPMPD Kaltim, Surono, Kepala Bidang Pemberdayaan Kelembagaan dan Sosbudmasy, Surya Dharma Herman, Kepala Bidang Pemerintahan Desa dan Kelurahan, Noor Fathoni, serta pejabat dan staf lainnya.

Penceramah intinya menyampaikan pesan bahwa sebagai makhluk tentu tidak luput dari rasa cinta dan benci atau suka dan tidak suka. “Ini terjadi baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun di lingkungan pekerjaan,” sebut Ustad Sani Bin Husaini dalam ceramah agamanya, di Masjid Al Husna Kompleks Kantor DPMPD Kaltim, Jumat (21/6).

Dalam pertemanan, kata dia, sepuluh orang teman tidak bisa dipaksakan semua suka terhadap kita. Bisa jadi dari 10 orang ada satu orang yang membenci atau tidak suka.

Pesannya, jangan sampai karena ada satu orang yang tidak suka menguras fikiran dan menghabiskan energi. Padahal masih ada sembilan orang teman yang cinta atau suka terhadap kita yang lebih baik difikirkan ketimbang memikirkan satu orang tidak suka.

Dia juga mengingatkan agar semua tidak membenci atau tidak suka karena empat hal, yakni jangan membenci karena perbedaan. Sebab perbedaan merupakan suatu keniscayaan karena setiap manusia diciptakan berbeda.

“Jangan karena berbeda kita saling membenci. Suami istri pun dipersatukan karena perbedaan. Listrik karena arusnya berbeda AC dan DC dapat menghidupkan perangkat elektonik. Banyak hal perbedaan memberi kebaikan,” serunya.

Selanjutnya, dia mengingatkan agar tidak membeci karena fisik atau kekurangan seseorang. Dianggap jelek maupun ada kekurangan fisik lainnya karena tidak semua yang jelek itu tidak baik, melainkan bisa jadi membawa kebaikan dan keberkahan bagi orang lain.

Dia juga mengingatkan agar tidak boleh membenci karena status sosial seseorang. Misalnya tidak memandang seseorang karena pakaiannya lusuh atau pekerjaannya.

“Terakhir jangan membenci karena masa lalu seseorang. Sebab semua orang punya masa lalu dan bukan mustahil masa sekarang bisa menjadi lebih baik,” sebutnya.(DPMPD Kaltim/arf)